Air minum yang terlihat jernih belum tentu aman. Banyak kasus kesehatan muncul karena adanya bakteri dalam air minum yang tidak terdeteksi secara kasat mata. Kondisi ini sering terjadi akibat proses pengolahan air yang tidak sesuai standar atau kurangnya pengawasan mikrobiologi di sumber dan instalasi produksi air.
Mari simak ulasan di bawah ini untuk mengetahui apa saja jenis bakteri yang ada di air, risiko yang ditimbulkan, hingga tips pencegahannya.
Jenis Bakteri dalam Air Minum
Dalam pengujian kualitas air, bakteri terbagi menjadi dua kategori utama, yaitu bakteri indikator dan bakteri patogen. Pengelompokkan ini membantu Anda memahami mana bakteri yang menjadi indikator kontaminasi dan mana yang dapat memicu penyakit serius. Berikut pengelompokannya:
1. Bakteri Indikator
Jenis bakteri ini menandakan adanya bakteri kontaminan dalam air. Adapun bakterinya seperi total coliform dan Escherichia coli.
Total coliform dan E. coli tidak selalu menyebabkan penyakit secara langsung, tetapi keberadaannya menunjukkan bahwa air terkontaminasi oleh kotoran atau lingkungan yang tidak higienis. E. coli yang ditemukan dalam air minum biasanya berasal dari kotoran manusia atau hewan.
Namun, sebenarnya tidak semua jenis E. coli berbahaya, tetapi strain tertentu seperti E. coli O157:H7 bisa menyebabkan keracunan berat dengan gejala diare berdarah, mual hebat, hingga risiko gagal ginjal jika tidak segera ditangani. Apabila bakteri indikator ini terdeteksi, artinya ada potensi bakteri berbahaya lain tersembunyi di dalam air.
2. Bakteri Patogen
Bakteri patogen adalah jenis bakteri penyebab penyakit yang langsung berdampak pada kesehatan. Beberapa jenis bakteri dalam air minum dalam kelompok ini adalah sebagai berikut:
- Salmonella: Biasa ditemukan pada air yang tercemar feses. Infeksi bakteri ini dapat memicu demam tifoid (tipes), muntah, dan diare berat yang berpotensi menyebabkan dehidrasi. Kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia bahkan memiliki risiko komplikasi yang lebih tinggi.
- Vibrio cholerae: Penyebab utama penyakit kolera yang ditandai dengan diare mendadak sehingga menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan dalam waktu singkat. Vibrio cholerae cenderung berkembang lebih cepat di lingkungan dengan sanitasi buruk dan air yang tidak didesinfeksi dengan benar.
- Legionella: Umumnya berkembang di instalasi air buatan seperti sistem pipa air hangat, tangki, atau menara pendingin. Ketika terhirup atau masuk ke tubuh, bakteri ini dapat menyebabkan gangguan pernapasan serius, terutama pada orang dengan daya tahan tubuh lemah.
- Shigella: Biasanya menyerang sistem pencernaan dan menyebabkan infeksi bernama shigellosis. Gejalanya meliputi diare berdarah, demam, dan kram perut. Penularannya sangat cepat, bahkan melalui jumlah bakteri yang sangat kecil, sehingga air yang terkontaminasi menjadi media penyebaran paling umum.
- Campylobacter: Biasanya muncul pada air yang terkontaminasi kotoran hewan, terutama unggas dan ternak. Pada banyak kasus, infeksi ini menimbulkan keluhan ringan seperti diare dan kram perut. Namun, apabila tidak ada penanganan yang tepat, bakteri ini dapat memicu komplikasi yang lebih serius.
Risiko Kesehatan Akibat Bakteri dalam Air Minum
Air minum yang layak konsumsi seharusnya tidak mengandung bakteri indikator maupun bakteri patogen. Jika hasil uji mikrobiologi menunjukkan adanya coliform atau E. coli, maka air tersebut dinyatakan tidak layak konsumsi. Mengonsumsi air yang tercemar bakteri dapat menimbulkan beberapa gangguan kesehatan seperti:
- Diare dan mutah
- Infeksi saluran pencernaan
- Demam tifoid (tipes)
- Kolera dan disentri
- Dehidrasi berat
- Komplikasi ginjal dan hati
- Risiko fatal pada anak-anak dan lansia karena sistem imun yang lemah
Lebih lanjut, gangguan serius akibat mengonsumsi air yang terkontaminasi bakteri dan tidak mendapatkan penanganan segera dapat menimbulkan kematian.
Cara Mencegah Bakteri dalam Air Minum
Berikut ini beberapa langkah penting yang dapat Anda terapkan untuk memastikan air minum bebas dari kontaminasi bakteri.
1. Pilih Sumber Air yang Aman
Langkah pertama yang paling krusial adalah memastikan sumber air tidak berada di dekat area limbah, kandang ternak, atau saluran pembuangan. Air tanah atau air permukaan yang belum terlindungi sangat rentan terkontaminasi bakteri dari feses atau lingkungan kotor.
2. Lakukan Filtrasi yang Tepat
Gunakan sistem penyaringan yang mampu menahan bakteri dan partikel mikro. Penggunaan filter berteknologi membran seperti ultrafiltrasi dan mikrofiltrasi sangat disarankan karena mampu menahan mikroorganisme hingga ukuran mikron. Sistem filtrasi ini lebih efektif daripada filter biasa.
3. Lakukan Desinfeksi Air
Desinfeksi adalah tahap wajib dalam pengolahan air untuk membunuh bakteri patogen. Metode yang umum digunakan adalah ozonisasi, sinar UV, atau penambahan klorin dalam dosis terkontrol. Untuk industri air minum dalam kemasan (AMDK), UV dan ozon lebih banyak dipilih karena tidak meninggalkan residu kimia.
4. Monitoring dan Uji Mikrobiologi Secara Rutin
Pengujian total coliform dan E. coli harus menjadi bagian dari kontrol kualitas rutin. Uji laboratorium biasanya menggunakan metode MPN (Most Probable Number), Membrane Filtration, dan Chromogenic media untuk mengidentifikasi bakteri E. coli dengan cepat.
Dengan pengujian ini, Anda bisa mengetahui potensi kontaminasi lebih awal sebelum air diedarkan atau dikonsumsi. Untuk pabrik AMDK, hasil uji mikrobiologi ini menjadi salah satu syarat utama kelulusan audit BPOM dan uji layak edar.
Gunakan Jasa Konsultasi Pabrik AMDK Profesional dari Tanindo!
Kualitas air minum bukan hanya soal rasa atau kejernihan, tetapi keamanan kandungan mikrobiologinya. Lakukan berbagai tips di atas untuk meminimalkan risiko kesehatan akibat bakteri dalam air minum.
Jika Anda berencana membangun atau mengembangkan pabrik AMDK, bekerja sama dengan PT Tanindo sebagai mitra teknis akan membantu setiap proses audit dan perizinan berjalan lancar serta memastikan kualitas air tetap aman dan sesuai regulasi. Konsultan AMDK berpengalaman dari PT Tanindo akan membantu Anda untuk:
- Menganalisis sistem pengolahan air dari hulu hingga hilir;
- Mengidentifikasi potensi titik kontaminasi bakteri di area produksi;
- Melakukan pendampingan uji mikrobiologi; serta
- Menyiapkan standar operasional sanitasi sesuai persyaratan BPOM dan Kementerian Kesehatan.
Tunggu apa lagi? Segera hubungi kontak PT Tanindo untuk mendapatkan informasi lebih lanjut!
FAQ
Kebanyakan orang menganggap bahwa air minum selalu bebas bakteri. Padahal, bakteri dan kontaminan dapat mencemari air secara tidak kasat mata.
Jenis bakteri yang paling umum ada di dalam air dan menyebabkan berbagai penyakit adalah E. coli, Salmonella, Legionella, dan Shigella.
Gejalanya meliputi diare, muntah, kram, mual, sakit kepala, demam, kelelahan, hingga kematian.
Air panas dapat membunuh bakteri, terutama jika dipanaskan hingga suhu yang cukup tinggi. Suhu yang lebih tinggi efektif membunuh berbagai jenis mikroorganisme, termasuk bakteri dan virus.
Untuk membunuh mikroba penyebab penyakit, Anda perlu mendidihkan air selama 3–5 menit dalam wadah tahan panas. Setelah mendidih, Anda harus mendinginkan air di tempat yang aman, jauh dari jangkauan anak-anak dan hewan peliharaan, kemudian menuangkannya dalam wadah bersih dan tertutup.
