Seiring dengan perkembangan gaya hidup modern, budaya konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) semakin meningkat karena mudah didapat, praktis, dan dianggap bersih. Namun, di balik itu, muncul isu mengenai keamanan dan kualitas air minum kemasan, salah satunya adalah keberadaan senyawa bromat pada AMDK.
Keberadaan bromat pada AMDK ini menjadi perhatian serius. Sebab, jika terlalu sering mengonsumsi air minum yang mengandung bromat di atas ambang batas, maka akan menimbulkan berbagai penyakit yang berbahaya. Sehingga, setiap industri AMDK perlu melakukan pencegahan demi menjaga kesehatan para konsumennya.
Bagaimana bisa Terbentuk Bromat pada AMDK?
Bromat adalah senyawa kimia berupa ion bromat (BrO₃⁻) yang terbentuk saat proses pemurnian (sterilisasi) air mineral dengan teknik ozonisasi. Teknik ini menggunakan gas ozon (O₃) sebagai desinfektan air, yang kemudian bereaksi dengan ion bromida (Br⁻) yang terkandung secara alami dalam air baku, sehingga membentuk bromat (BrO₃⁻).
Beberapa faktor yang memengaruhi jumlah bromat pada AMDK yang terbentuk selama ozonisasi adalah sebagai berikut.
- Konsentrasi ion bromida: Semakin tinggi konsentrasi ion bromida dalam air baku, semakin banyak bromat yang dapat terbentuk.
- Dosis ozon: Peningkatan dosis ozon untuk desinfeksi atau membasmi mikroorganisme dalam air dapat meningkatkan pembentukan bromat.
- pH air: Tingkat pH yang lebih tinggi membuat pembentukan bromat juga tinggi.
- Waktu kontak: Waktu kontak yang lebih lama antara ozon dan air baku dapat meningkatkan pembentukan bromat.
- Bahan organik terlarut: Adanya bahan organik alami dapat memengaruhi pembentukan bromat, karena bahan organik dapat bersaing untuk bereaksi dengan ozon dan radikal hidroksil.
- Suhu: Suhu air yang lebih tinggi mempercepat laju reaksi, termasuk reaksi pembentukan bromat.
Selain akibat penggunaan ozon dalam pengolahan air minum kemasan, bromat pada AMDK juga dapat terbentuk secara alami ketika air yang mengandung bromida terkena sinar matahari. Paparan sinar matahari tersebut dapat merangsang reaksi antara bromida dan oksigen dalam air, yang mana akhirnya menghasilkan bromat.
Kadar ion bromida dalam sumber air baku itu sendiri dapat meningkat karena adanya pencemaran lingkungan. Contohnya, limbah industri seperti produksi tekstil, kertas, pemutih tepung, di mana senyawa bromin dan oksigen bereaksi dengan air atau bahan kimia lain. Selain itu, juga karena limbah pertanian atau intrusi air laut di wilayah pesisir.
Risiko Kesehatan Jika Mengonsumsi AMDK Mengandung Bromat
Mengonsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) yang mengandung bromat dapat memengaruhi kesehatan, terutama pada dosis yang tinggi dan dalam jangka panjang. Sebab, senyawa bromat akan menimbulkan berbagai ancaman penyakit yang berbahaya di dalam tubuh, antara lain sebagai berikut.
- Gangguan pencernaan seperti mual, muntah, dan diare.
- Kerusakan ginjal, terlebih pada orang yang sudah memiliki penyakit ginjal.
- Gangguan sistem saraf seperti kelelahan, kecemasan, dan hilangnya refleks.
- Risiko kanker, pada penelitian hewan menunjukkan bahwa bromat berpotensi memicu kanker ginjal dan sistem limfatik, meski penelitian pada manusia masih terbatas.
- Gangguan sistem reproduksi, contohnya memicu gangguan hormon, mengurangi kualitas sperma, dan merusak janin atau organ-organ reproduksi.
- Kerusakan sel dan DNA, sehingga mempercepat penuaan sel dan meningkatkan risiko penyakit degeneratif serta menyebabkan mutasi genetik.
Cara Mencegah Kandungan Bromat pada AMDK
Untuk mencegah munculnya kandungan bromat pada AMDK, produsen harus lebih ketat dalam memproses produknya. Caranya antara lain menerapkan cara produksi pangan olahan yang baik (CPPOB) secara konsisten, mengendalikan proses ozonisasi, dan menjaga mutu bahan baku air dengan rutin menganalisis AMDK di laboratorium.
Selain langkah produsen tersebut, pemerintah melalui BPOM (Badan Pengawas Obat dan Makanan) berperan dalam hal pengawasan dan pengujian produk AMDK secara berkala. Jika ada pelanggaran atau produk tidak memenuhi syarat (kandungan bromat melebihi batas), maka BPOM berwenang menarik produk dan mencabut izin edarnya.
Sedangkan bagi konsumen harus lebih teliti dalam memilih produk AMDK. Salah satu caranya adalah memeriksa apakah produk tersebut telah memenuhi SNI (Standar Nasional Indonesia) dan memiliki izin edar dari BPOM atau belum. Konsumen dapat mengecek melalui website resmi BPOM atau aplikasi BPOM mobile.
Regulasi Terkait Bromat di Indonesia
Menyadari risiko kesehatan yang mungkin timbul, pemerintah Indonesia melalui BPOM dan BSN (Badan Standardisasi Nasional) telah mengatur batas maksimum kandungan bromat pada AMDK. Berdasarkan SNI 3553:2023 (Air Mineral) dan SNI 6241:2023 (Air Demineral), batas bromat adalah 10 mikrogram per liter atau 0,01 miligram per liter.
Sehingga, BPOM melalui Surat Edaran Nomor 6 Tahun 2024 mewajibkan pelaku usaha pangan untuk mencantumkan hasil uji laboratorium kandungan bromat sebagai salah satu syarat registrasi AMDK. Apabila produk AMDK mengandung cemaran bromat melebihi batas yang ditentukan tersebut, maka BPOM tidak akan memberikan izin edar.
Kendalikan Bromat pada AMDK Bersama Konsultan dari Tanindo
Pengendalian kandungan bromat pada AMDK sangat penting untuk memastikan produk AMDK aman dikonsumsi dan sesuai standar yang telah ditetapkan. Dengan begitu, masyarakat bisa terhindar dari berbagai penyakit berbahaya akibat cemaran bromat. Jadi, perusahaan AMDK wajib melakukan pemeriksaan pada produknya secara rutin.
Bagi Anda yang memiliki bisnis AMDK, Anda bisa memanfaatkan jasa konsultan AMDK yang tepercaya, yaitu PT Tanindo, untuk berkonsultasi mengenai pengolahan air, khususnya penggunaan sistem ozonisasi. Para tenaga profesional dan berpengalaman dari Tanindo akan membantu perusahaan AMDK Anda memenuhi standar keamanan
FAQ
Bromat adalah senyawa kimia berupa ion bromat (BrO₃⁻) yang terbentuk saat proses pemurnian (sterilisasi) air mineral dengan teknik ozonisasi. Teknik ini menggunakan gas ozon (O₃) sebagai disinfektan air, yang kemudian bereaksi dengan ion bromida (Br⁻) yang terkandung secara alami dalam air baku, sehingga membentuk bromat (BrO₃⁻).
Mengonsumsi air berkadar bromat tinggi dalam jangka pendek dapat menyebabkan masalah pencernaan seperti mual, muntah, sakit perut, diare, serta kelelahan. Sedangkan konsumsi dalam jangka panjang berpotensi menimbulkan kerusakan ginjal, gangguan sistem saraf dan reproduksi, serta peningkatan risiko kanker.
Teknologi yang efektif untuk menghilangkan bromat adalah sistem osmosis terbalik (reverse osmosis/RO) dan penyaringan karbon aktif granular. Namun, bromat dapat dicegah dengan meminimalkan kandungan bromida pada air baku, mengontrol dosis ozon, dan menambahkan hidrogen peroksida atau amonia.
Cara analisis bromat di laboratorium adalah dengan memasukkan sampel air ke dalam alat kromatografi ion. Alat ini memisahkan bromat dari ion lain berdasarkan karakteristik kimia masing-masing. Setelah terpisah, bromat dideteksi dan konsentrasinya diukur dengan alat detektor konduktivitas atau spektrofotometri.
AMDK yang aman dikonsumsi adalah terdapat logo halal dari MUI, izin edar dari BPOM, dan tanggal kedaluwarsa masih lama. Kondisi kemasan juga harus masih tersegel dan tidak rusak atau bocor. Selain itu, airnya jernih, tidak berasa, dan tidak berbau serta berasal dari produsen terpercaya dengan standar kualitas (SNI dan ISO) yang terverifikasi.
